Tidur adalah kebutuhan
manusia paling pokok yang merupakan sebuah proses fundamental. Tidur
didefinisikan sebagai kondisi pelepasan perseptual dari lingkungan yang
bersifat sementara dan dapat berulang.
Rata-rata orang
meluangkan 6 hingga 8 jam per hari untuk tidur, meski ada juga yang tidur
hingga 10 jam per hari atau justru cukup 4 jam per hari. Berarti kita
meluangkan hampir sepertiga hari, atau sepertiga hidup, kita untuk tidur,
kendati banyak dari kita tidak pernah memikirkan hal tersebut.
Lumba-lumba sebagai
mamalia yang cerdas dapat mengistirahatkan separuh otaknya dan mengaktifkan
separuh lainnya saat berenang dan mengawasi sekeliling.
Singa tidur sekitar 12
jam per hari, dan mereka dapat melakukan itu karena posisinya yang berada di
puncak rantai makanan. Gajah hanya tidur 4 jam per hari, yang mereka lakukan
dengan posisi berdiri tegak. Beberapa orang mungkin dapat melakukan hal serupa,
tapi kebanyakan orang pasti kesulitan untuk tidur terbalik seperti kelelawar
selama 3 bulan sepanjang musim dingin.
Tidur adalah proses
aktif
Kebanyakan kita
menganggap tidur sebagai kejadian pasif: kita menutup mata dan semua fungsi
jasmaniah kita berhenti.
Tidak seperti keyakinan
umum, tidur adalah proses aktif yang melibatkan interaksi kompleks dengan
fungsi metabolisme dan aktivitas dalam otak yang tinggi. Tidur terbagi ke dalam
2 fase utama: dream sleep atau tidur lelap (rapid eye movement / REM) dan
non-dream sleep atau tidur tidak lelap (non-REM). Dream sleep disebut juga
slow-wave sleep (SWS) karena gelombang-gelombang otak melambat hingga mencapai
pola yang sangat lambat dan terkoordinasi.
Rata-rata, dream sleep
atau tidur lelap meliputi sekitar 25% hingga 30% dari seluruh tidur orang
dewasa. Pada anak-anak, dream sleep bisa mencapai 50% dari seluruh tidur
malamnya. Penelitian mengenai aktivitas metabolisme otak selama fase tidur dan
terjaga menunjukkan bahwa selama fase dream sleep aktivitas metabolisme pada
sebagian besar otak meningkat dibandingkan pada fase non-dream sleep atau
bahkan fase terjaga.
Mayoritas pakar meyakini
bahwa dream sleep sangat penting bagi manusia. Sudah diterima secara luas bahwa
dream sleep penting bagi kesehatan, penyegaran ulang memori, peremajaan dan
kesiagaan mental. Karenanya, dream sleep vital bagi pikiran dan jasmani
manusia. Ada beberapa obat yang bersifat penunjang non-dream sleep dan
penggunanya akan cenderung merasa amat lelah dan letargi keesokan harinya.
Biasanya mereka menganggap kondisi itu sebagai efek samping obat tersebut.
Sebenarnya, kondisi itu adalah akibat kurangnya dream sleep pada malam
sebelumnya.
Dream sleep ditandai dengan otak yang sangat aktif sementara badan "lumpuh". Ini kesempurnaan anugerah Tuhan agar kita tidak memeragakan mimpi (misalnya jika bermimpi bermain bola, kita tidak menendang dan memeragakannya di tempat tidur, yang akan membahayakan teman tidur).
Dream sleep ditandai dengan otak yang sangat aktif sementara badan "lumpuh". Ini kesempurnaan anugerah Tuhan agar kita tidak memeragakan mimpi (misalnya jika bermimpi bermain bola, kita tidak menendang dan memeragakannya di tempat tidur, yang akan membahayakan teman tidur).
Tapi ini tidak terjadi
pada pasien dengan saluran udara yang sempit, karena saluran udara yang sudah
sempit itu akan kehilangan ketegangannya selama tidur lelap dan akhirnya
kolaps, sehingga saluran udara bagian atas tersumbat, napas terhenti dan
masukan oksigen berkurang. Akibatnya, terbentuklah tekanan pada jantung, otak
dan organ tubuh lainnya.
Kondisi ini disebut
apnea tidur obstruktif (OSA). Apnea tidur obstruktif merupakan kelainan tidur
yang paling umum. Dampaknya terlihat pada tidur yang terganggu, sering terjaga
dan kualitas tidur yang rendah. Kondisi ini serupa dengan yang dalam patofisiologi
disebut, dan yang sering kita dengar sehari-hari sebagai, kurang tidur. Saat
siang hari, pasien merasa mengantuk berlebihan, konsentrasi rendah, daya ingat
turun dan mudah marah. Dalam jangka panjang kondisi ini memiliki konsekuensi
medis seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan kematian
mendadak selagi tertidur.
Kurang Tidur
Pada titik tertentu
selama sehari setiap orang harus tidur. Jika tuntutan kerja memaksa kita
melampaui batas, dan kita tidak tidur selama lebih dari 24 jam, defisit tidur
itu akan mengumpul dan refleks serta fungsi mental kita akan menurun. Seiring
bergantinya hari, kekurangan tidur ini akan terus mengumpul dan membuat kita
menjadi kurang produktif di tempat kerja, mudah murah, depresi dan tertidur
saat mengemudi.
Kurang Tidur Menumpulkan
Kinerja
Beberapa faktor terkait
tidur mempengaruhi kinerja.
1. Dorongan homeostasis untuk tidur malam
sangat ditentukan oleh berapa jam kita telah terjaga secara terus-menerus.
Selama terjaga tersebut, kita membentuk kebutuhan yang terus dan terus kuat
akan istirahat. Kebanyakan kita menganggap dapat mengontrol kebutuhan akan
tidur ini, dan kita dapat memilih kapan tidur dan kapan bangun. Yang benar
ialah saat kita terlalu lelah, otak akan serta-merta mengambil alih kontrol
itu, dan tertidurlah kita.
2. Faktor kedua adalah total waktu tidur
seseorang selama beberapa hari terakhir. Jika seseorang dapat tidur setidaknya
8 jam per malam, maka tingkat kesiagaannya akan tetap stabil sepanjang hari.
Tapi jika seseorang mengalami gangguan tidur seperti apnea tidur obstruktif,
atau tidak tidur selama beberapa hari, dia akan mengalami defisiensi tidur yang
akan kian menyulitkan otaknya untuk berfungsi.
3. Faktor ketiga berhubungan dengan ritme
sirkadian tidur - jam dalam tubuh manusia yang mengatakan "sekarang tengah
malam" atau "sekarang fajar". Tugas ini dilakukan oleh jam neurologi
yang disebut "circadian pacemaker". Dialah yang memberi tahu tubuh
kita kapan “malam” dan kapan "siang". Karena itu, pekerja shift
mungkin merasa lelah terus-menerus karena mereka tidur siang selama beberapa
hari, kemudian beralih tidur malam selama beberapa hari berikutnya.
4. Faktor terakhir yang dapat mempengaruhi
kinerja adalah apa yang disebut "sleep inertia". Ini adalah perasaan
tidak siap yang dirasakan kebanyakan orang saat pertama kali terbangun. Seperti
halnya mesin mobil, otak perlu waktu "pemanasan" saat kita bangun.
Bagian otak yang bertanggung jawab atas konsolidasi memori tidak berfungsi
optimal selama 5 hingga 20 menit setelah kita terbangun dan tidak mencapai
efisiensi puncaknya selama beberapa jam. Terdapat masa transisi antara waktu
saat kita terbangun dan waktu saat otak kita sepenuhnya berfungsi.
Bahaya Kelebihan Tidur (OverSleeping)
Para ahli kesehatan menyimpulkan
bahwa tidur yang dianggap sesuai dengan porsi yang diperlukan tubuh adalah 7-8
jam. Apabila kurang maka akan ada pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia,
demikian juga jika lebih dari porsi itu, kesehatan juga akan terganggu.
Kelebihan tidur disebut Oversleeping.
Pada
15 abad yang lalu Rosul telah memberikan isyarat tentang kelebihan porsi tidur
tersebut sebagaimana tersebut dalam sabda beliau yang bersumber dari Ibnu
Masud. Ibnu Mas'ud berkata : " diceritakan (Allah) kepada Nabi Muhammad
SAW tentang seseorang yang tidur hingga Subuh (waktu Fajar Pagi), Sabda Baginda
Nabi : " Itulah orang lelaki yang dikencingi oleh syaitan pada kedua
telinganya" (HR Bukhari dan Muslim) (As-Syaikhan)
Merujuk hadis tersebut, dapat
dipahami bahwa terdapat banyak kejelekan bagi seseorang yang tidur melebihi
batas yang seharusnya. Sabda nabi " dikencingi oleh syaitan"
merupakan pertanda jelek. Yang namanya syetan adalah mahluk Allah yang paling
jelek karena kedurhakaannya. Kalau ditambah dengan kalimat dikencingi oleh
syetan tentu jauh lebih buruk dari syetan itu sendiri.
Subhanallah. Apa yang sekarang
terjadi ternyata telah diprediksikan oleh nabi kita jauh sebelumnya. Berikut
ini adalah ulasan tentang Pengaruh Kesehatan akibat orang kebanyakan
tidur.
5 MACAM GANGGUAN KESEHATAN
AKIBAT KEBANYAKAN TIDUR Terlalu banyak tidur mengandung risiko kesehatan,
sama halnya dengan kurang tidur. Para peneliti menyimpulkan bahwa tidur
melebihi 7-8 jam dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Adapun beberapa macam
gangguan kesehatan akibat kebanyakan tidur antara laian :
1. Menyebabkan gangguan
kardiovaskular
Hasil Penelitian yang dilakukan
Warwick Medical School tahun 2007 menunjukkan tidur terlalu banyak dapat
meningkatkan risiko kematian dini disebabkan penyakit jantung. Peneliti
mengatakan orang yang tidur lebih dari tujuh jam setiap malam, akan berpotensi
2X lebih besar mengalami penyakit jantung, dibandingkan orang yang rutin tidur
tujuh jam setiap malam.
2. Lebih Mudah Terkena
Diabetes
Kekurangan tidur diketahui dapat
meningkatkan risiko diabetes. Demikian pula halnya terjadi juga pada orang yang
terlalu banyak tidur. Orang yang tidur lebih dari sembilan jam setiap malam,
memiliki 50 % risiko lebih besar menderita diabetes dibandingkan dengan orang
yang tidur cukup 7-8 jam.
3. Menimbulkan keluhan
"Sering pusing Kepala"
Orang yang terlalu banyak tidur
sering merasa pusing dan mengantuk di siang hari. Ini menyebabkan gangguan pola
tidur normal di hari kerja. Selain pusing, kebanyakan tidur juga bisa
menyebabkan sakit kepala dan nyeri punggung.
4. Depresi
Efek lain dari terlalu banyak
tidur adalah peningkatan risiko gangguan mental, seperti depresi. Orang yang
depresi mungkin merasa ingin lebih banyak tidur. Tapi pada gilirannya tidur
berlebihan dapat memperburuk depresi itu sendiri.
5. Menjadi Pemicu Sakit
punggung kronis
Hal yang sama juga berlaku pada
orang yang menderita sakit punggung kronis dan sakit kepala. Orang yang
mengalami kondisi terburuk mungkin ingin lebih banyak beristirahat dengan
tidur, tapi jika dilakukan berlebihan, tidur justru dapat membuat kondisi
semakin parah.
BEBERAPA PENYEBAB OVERSLEEPING
Ada beberapa penyebab seseorang menjadi kelebihan tidur (oversleeping)
1. Sleep apnea
yaitu : jenis gangguan tidur di
mana orang berhenti bernapas untuk sesaat ketika tidur dan ini dapat
menyebabkan meningkatnya kebutuhan tidur karena membuat siklus tidur normal
terganggu. Penderita akan merasa lelah dan lemas meski telah tidur selama lebih
dari 10 jam.
2. Narcolepsy
Narcolepsy merupakan masalah
neurologis yang menyebabkan tidur berlebihan. Hal ini terjadi karena kebanyakan
tidur memengaruhi kerja bagian otak yang mengontrol dan mengatur tidur.
Sehingga membuat penderita tidak dapat lagi mengendalikan waktu tidur,
akibatnya penderita dapat tertidur di mana saja dan kapan saja.
3. Stres dan depresi
Stress dan Depresi merupakan dua
perkara yang harus dihindari oleh siapapun dan kapanpun. Keduanya menjadi
pemicu oversleeping (tidur berlebihan)
4. Kelelahan
Kelelahan akibat bekerja terlalu
keras, gangguan tidur, atau kekurangan tidur merupakan salah satu penyebab
utama oversleeping. karena ketika bekerja keras kita akan merasa lelah dan anda
cenderung memutuskan tidur lebih lama, bahkan lebih dari sembilan jam, untuk
mencoba supaya segar kembali.
4 TIPS MENGHINDARI
OVERSLEEPING. Ini lah beberapa tips agar bisa sedikit terhindar dari
oversleeping :
1. Pilih nada atau suara alarm
yang tepat
Agar kita dapat mengatur lama
waktu tidur kita dapat menggunakan ALARM. Memilih suara alarm yang tepat
penting artinya untuk mengembalikan kita ke realitas, bahkan dari tidur yang
paling dalam sekalipun.
2. Jangan tergoda untuk tidur
ringan atau snooze setelah terbangun
Hindarilah penggunaan tombol
snooze pada alarm karena hanya akan mengacaukan jadwal alarm tidur kamu.
3. Buat dan Pertahankan jadwal
tidur secara teratur
Buatlah kebiasaan yang membuat
tubuh kamu teratur untuk beristirahat dan kembali siap untuk beraktivitas pada
hari berikutnya. Rencanakan program aktivitas hingga larut hanya pada saat kamu
bebas dari pekerjaan pada keesokan harinya.
4. Hindari stress dan depresi
berlebih
sempat dijelaskan di atas kalau
anda sedang stress akan membuat anda mudah tidur dan tidur lama. Jadi usahakan
untuk menghindari hal ini.
Maka kebiasaan dan pola tidur
harus diatur. Jangan kekurangan, tapi jangan juga telalu banyak. Dua-duanya
tidak baik untuk kesehatan diri kita. Kalau bukan diri kita lalu siapa yang
harus menjaganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar